CEMBURU ITU INDAH


Rasa cemburu dianggap sebagai watak dasar para wanita, tidak ada wanita yang selamat dari watak ini, bahkan para Ummahat al-Mukminin yang merupakan istri-istri Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam. Aisyah selalu mencemburui Khadijah radhiyallâhu ‘anha walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Khadijah. Aisyah mengingkari pujian dan sanjungan Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam kepada Khadijah dengan mengatakan, “Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya.”[24] Jika ini sikap Aisyah kepada Khadijah, maka bisa dibayangkan sikap wanita lainnya kepada madunya!
Kecemburan yang baik memengaruhi hubungan suami istri dengan syarat tidak berlebihan dalam cemburu, namun proporsional dan penuh pertimbangan. Dengan demikian, cemburu menjadi indikator rasa cinta pasangan kepada pasangannya, disinilah cemburu itu akan nampak indah. Untuk itu suami harus bersikap proporsional dalam masalah ini, dan tidak boleh berburuk sangka, dan mencari-cari kesalahan. Dalam keluarga Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam telah memberikan teladan yang baik dalam perkara rasa cemburu, yang dirasakan oleh istri-istrinya.[25]
Aisyah radhiyallâhu ‘anha pernah cemburu pada Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam, ia menceritakan sendiri bahwa pada suatu malam Rasûlullâh pergi dari sisinya. Ia berkata, “Aku mencemburuinya karena jangan-jangan beliau mendatangi salah satu istrinya. Lalu datanglah beliau dan melihat keadaanku. Rasûlullâh bersabda, “Apakah engkau cemburu?” Jawabku, “Apakah orang sepertiku tidak pantas untuk cemburu terhadap orang sepertimu?” Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh setanmu telah datang”. (HR Muslim dan Nasa’i)[26]
Aisyah radhiyallâhu ‘anha juga pernah berkata, “Aku tidak melihat yang pandai memasak seperti Shafiyah. Ia memasak makanan untuk Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallam saat belaiu ada dirumahku. Timbullah rasa cemburuku, aku merebut piring yang berisi makanan tersebut dan membantingnya sampai pecah. Tetapi aku menyesal, lalu berkata, “Ya Rasûlullâh, apa kifarat bagi perbuatan yang telah aku lakukan?” Nabi shallallâhu alaihi wa sallam menjawab, “Gantilah piring itu dengan piring yang serupa, demikian pula makanannya.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)[27]
Sebagaian rasa cemburu ada yang terpuji dan dianjurkan, sebagian lagi dibenci dan tercela. Rasa cemburu kepada istri yang berselingkuh, kalau memang benar telah terbukti, dikatagorikan sebagai rasa cemburu yang terpuji. Adapun rasa cemburu yang disebabkan oleh persaiangan dalam mengejar hal-hal duniawi, atau dilandasi perasaan waswas yang belum jelas kebenarannya, maka kecemburuan ini termasuk yang dibenci. Jabir bin ‘Atik meriwayatkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu alaihi wa sallambersabda, “Cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada pula yang dibenci-Nya. Adapun yang dicintai Allah adalah cemburu terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan tuduhan keragu-raguan. Sendangkan cemburu yang dibenci Allah adalah cemburu terhadap hal-hal yang tidak menyebabkan tuduhan dan keragu-raguan.” (HR Abu Dawud)[28]

0 Response to "CEMBURU ITU INDAH"

Posting Komentar